Fitur-Fitur yang Menguntungkan di Mobil
Beberapa Fitur yang Menguntungkan pada Mobil
Mobil memiliki harga yang beragam tergantung dengan pilihan model yang anda pilih. Untuk mobil yang diproduksi beberapa tahun yang lalu, biasanya harganya lebih murah. Namun untuk mobil keluaran terbaru, biasanya harganya lebih mahal. Mengingat jumlah peminat mobil yang semakin hari semakin bertambah, produsen mobil semakin gencar menciptakan mobil dengan desain yang beragam.
Kesempatan ini bisa anda manfaatkan untuk menemukan mobil mana yang tepat untuk anda gunakan. Beragam pilihan warna mobil juga bisa anda pilih untuk membuat anda lebih oke ketika mengendarainya. Pastikan untuk memilih warna mobil yang bagus seperti silver atau warna hijau. Dua warna tersebut merupakan warna favorit yang banyak dipilih oleh para pelanggan mobil.
Mahal-Mahal kok Mogok di Tengah Jalan
Lamborghini Aventador Ronaldo Mogok di Madrid
MADRID – Cristiano Ronaldo merayakan ulang tahun ke 27 tahun dengan membeli sebuah supercar Lamborghini Aventador. Tapi, kado ultahnya tersebut justru mogok saat digunakannya di Madrid.
CR-7 memang dikenal sebagai bintang lapangan hijau yang gemar dengan mobil-mobil super. Seperti Aventador yang bertenaga 700 horsepower, sukses diboyong ke garasinya. Hanya saja, banteng jet tempur asal Italia ini ngambek saat sedang dikendarainya.
Seperti dikabarkan dailymail, Ronaldo ingin hadir di pesta ulang tahun rekan setimnya di Real Madrid dan juga Timnas Portugal, Pepe. Namun, tiba-tiba di pusat kota Madrid, Aventador tersebut mogok.
Ronaldo langsung menelpon asistennya, untuk memesan taksi dan menghubungi mobil derek. Lamborghini Aventador Ronaldo pun terpaksa dinaikan ke atas truk untuk dibawa ke bengkel.
di ambil dari:
http://autos.okezone.com/read/2012/03/09/86/590356/lamborghini-aventador-ronaldo-mogok-di-madrid.
MADRID – Cristiano Ronaldo merayakan ulang tahun ke 27 tahun dengan membeli sebuah supercar Lamborghini Aventador. Tapi, kado ultahnya tersebut justru mogok saat digunakannya di Madrid.
CR-7 memang dikenal sebagai bintang lapangan hijau yang gemar dengan mobil-mobil super. Seperti Aventador yang bertenaga 700 horsepower, sukses diboyong ke garasinya. Hanya saja, banteng jet tempur asal Italia ini ngambek saat sedang dikendarainya.
Seperti dikabarkan dailymail, Ronaldo ingin hadir di pesta ulang tahun rekan setimnya di Real Madrid dan juga Timnas Portugal, Pepe. Namun, tiba-tiba di pusat kota Madrid, Aventador tersebut mogok.
Ronaldo langsung menelpon asistennya, untuk memesan taksi dan menghubungi mobil derek. Lamborghini Aventador Ronaldo pun terpaksa dinaikan ke atas truk untuk dibawa ke bengkel.
di ambil dari:
http://autos.okezone.com/read/2012/03/09/86/590356/lamborghini-aventador-ronaldo-mogok-di-madrid.
Karya Anak Bangsa Mendapat Kemudahan

SOLO - Gagalnya uji emisi yang dialami mobil hasil produksi siswa SMK ini, diam-diam menarik perhatian Duta Besar Jerman untuk Indonesia, Norbert Baas.
Norbert Baas mengaku siap mengirimkan tenaga-tenaga ahli untuk membantu perbaikan dan pengembangan mobil Esemka agar bisa menjadi Mobil Nasional.
"Pengembangan otomotif yang dilakukan Kota Solo sangat bagus, saya memberikan apresiasi kepada Pemkot Solo. Kami siap memberikan bantuan pendampingan tenaga ahli bidang otomotif, serta manajemen untuk pengembangan industri otomotif mobil Esemka,"jelas Dubes Jerman untuk Indonesia Norbert Baas, seusai melakukan pertemuan dengan Wali Kota Solo, Joko Widodo, di Loji Gandrung, rumah dinas Wali Kota Solo, Jum’at (9/3/2012).
Pihaknya juga menawarkan kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Solo, untuk mengirimkan tenaga ahli dari kota ini ke Jerman untuk belajar dengan para ahli otomotif di negara tersebut.
Lebih lanjut Norbert juga mengatakan pihaknya akan segera mengirimkan tim ahli dari negaranya guna mendampingi pembelajaran siswa SMK di bidang otomotif. Tidak hanya untuk merakit mobil, tetapi juga bidang teknologi ramah lingkungan.
"Kami juga mengundang Pak Joko Widodo untuk memberikan ceramah di Jerman mengenai kemajuan otomotif di Solo, ” jelas Norbert Baas.
Menurut Norbert, gagalnya mobil Esemka dalam uji emisi,bukan disebabkan kualitas mobil Esemka masih kalah jauh dengan mobil buatan pabrik yang memang sudah menjadi bisnisnya. Namun,apa yang dihadapi mobil Esemka ini,hanya membutuhkan penggabungan antara pengetahuan dan teknologi.
Menanggapi kesanggupan Jerman untuk memberikan bantuan pendampingan pengembangan mobil Esemka tersebut, Wali Kota Solo, Joko Widodo, mengatakan pihaknya menyambut baik niat tersebut.
Tetapi pihaknya harus mempersiapkan segala sesuatunya terlebih dahulu, sebelum menerima bantuan dari Jerman termasuk kesiapan dari sumber daya manusianya.
di ambil dari :
http://autos.okezone.com/read/2012/03/10/52/590575/jerman-siap-bantu-sukseskan-esemka
Masa Depan Pengharum Nama Bangsa Tidak Terpikir
Sulitnya Memperjuangkan Masa Depan Atlet
Rejdo Prahananda - Okezone
Foto: dok. Okezone
Tidak dapat dipungkiri, untuk hal yang satu ini, jangankan kita, mungkin sang atlet sendiri lupa bagaimana kelanjutannya masa depannya setelah kebintangannya meredup. Atlet-atlet tersebut menjalani realitas kehidupan yang semakin kompleks setelah melepas atributnya sebagai atlet.
Beruntung bila mereka memiliki bisnis sampingan dan keahlian lain di luar bidang olahraga, jika tidak? Bukan mustahil kehidupan ekonomi mereka jauh di bawah standar. Banyak faktor yang membuat sang atlet hidup di antara kalangan marjinal, setelah mereka mengumandangkan Indonesia Raya di pentas olahraga. Selain kurangnya perhatian pemerintah, semua berpulang ke individu masing-masing.
Salah satunya faktornya, banyak dari pahlawan olahraga ini lupa untuk menyisihkan sebagian pendapatan mereka saat pundi-pundi keuangan mereka menggelembung lewat prestasi yang dikumpulkan dari arena pertandingan. Kesenangan sesaat tanpa perencanaan program jangka panjang dengan matang, setidaknya turut menentukan garis kehidupan mereka kelak.
Bukan hanya persoalan kantong semata, pendidikan pun acapkali mereka kesampingkan demi menuai medali emas. Bak makan buah simalakama, situasi ini tidak bisa dipisahkan dari kehidupan para atlet. Nah, berkaca dari sisi lain ini, membuat Yayasan Olahraga Indonesia (YOI) tergerak untuk membantu para atlet tersebut agar hidup sejahtera.
Menurut konsultan YOI, Robert Nio visi dan misi YOI tidak lain meningkatkan taraf hidup olahragawan dengan berbagai macam kategori. Insipirasi YOI untuk meningkatkan kesejahteraan pun sangat sederhana, bermula dari keprihatinan mereka atas nasib para olahragawan yang hidup di ambang garis kemiskinan.
Dalam diskusi terbuka yang digelar YOI serta dihadiri pengamat olahraga Rendra Soedjono dan mantan atlet perenang Nasional, John D. Item, Robert berujar. “Seorang juara tinju pernah mengatakan kepada saya ‘Menjadi juara tinju sulit, tapi lebih sulit menjadi pemulung.’”
Kontan saja, undangan yang datang ke acara tersebut sempat terdiam sejenak, seakan tidak percaya sebegitu ironisnya kehidupan para atelt di Indonesia. “Tapi faktanya demikian, jika ada di antara kalian (wartawan) ingin menemuinya akan saya berikan alamatnya,” sambung Robert.
Nantinya, YOI sendiri tidak akan meminta bantuan dari pemerintah melainkan dari para masyarakat dan penggiat olahraga yang menaruh respek atas komitmen YOI meningkatkan kualitas hidup para atlet. Beberapa cara yang dilakukan YOI adalah melalui program asuransi kesehatan dan pendidikan. YOI pun membuka diri dengan bantuan dari pihak lain bisa berupa dana maupun usaha mandiri.
Kehidupan nyata para atlet di masa mendatang cukup disayangkan, terutama oleh Rendra yang memiliki profesi sampingan sebagai manajemen atlet selain disibukkan menjadi presenter olahraga di sebuah stasiun televisi swasta. Dia bercerita, bagaimana sulitnya meyakinkan atletnya untuk menyisihkan sebagian pendapatan guna diinvestasikan atau dijadikan pegangan di hari tua.
“Saya melakukan ini demi masa depan dia sendiri agar dia bisa berinvestasi. Saya berikan kepada orang tuanya atau meminta membuat rekening khusus agar uang tersebut bisa digunakan untuk berinvestasi atau pegangan di hari tua nanti,” ungkap Rendra. “Atlet juga butuh pencerahan, mereka juga harus mengelola uang mereka, salah satunya dengan menabung. Karena perkembangan olahraga di Indonesia sangat baik dan telah menjadi industri,” sambungnya.
Rendra sadar, masih banyak cara yang bisa dilakukan berbagai kalangan untuk membantu taraf kehidupan yang layak bagi para atlet. Dia mencontohkan bagaimana Jerman memperlakukan atletnya yang berprestasi. Selain memberikan bonus berupa uang tunai dan berbagai jaminan, Komite olahraga di Jerman juga memberikan beasiswa kepada anak atlet tersebut secara berjenjang mulai dari sekolah dasar hingga bangku kuliah. “Saya harap langkah itu bisa dilakukan di Indonesia,” harapnya.
Meski demikian, Rendra melanjutkan, ada juga cerita manis dari para atlet setelah meninggalkan kariernya di dunia olahraga di antaranya Bob Hippy yang memprakarsai berdirinya sekolah sepakbola AS-IOP dan Rudy Hartono yang berhasil menjadi CEO pelumas mesin kendaraan yang berafiliasi ke Amerika Serikat.
Lain halnya dengan John D. Item, atlet renang ini sangat beruntung. Pria tambun yang telah menyumbang banyak emas di lima SEA Games ini berkesempatan mengenyam pendidikan hingga Amerika Serikat, setelah sebelumnya merasakan bangku kuliah di Universitas Indonesia hingga akhirnya menjabat Presiden Direktur Danareksa Investment Managements.
Menurut John, semua atlet sebenarnya memiliki kesempatan untuk menggapai sukses di luar olahraga, karena mereka telah terbiasa berkompetisi dengan tradisi kerja keras yang kental serta memiliki team work yang kuat, merupakan modal bagi untuk sukses.
“Olahragawan memiliki bibit untuk juara di berbagai bidang kehidupan. Mereka terbiasa berkompetisi dan bekerja keras, serta memiliki team work yang handal untuk meraih sukses di segala bidang. Saya selalu berusaha berlatih lebih cepat 0,1 detik per hari,” tutur John menganalogikan kerja keras seorang yang dimiliki seorang atlet untuk sukses. “Waktu 0,1 detik ini membuat saya bisa ke Amerika,” sambungnya.
Jika bukan kita yang memperhatikan nasib atlet, siapa lagi? Setelah mereka bersusah payah mengibarkan Merah Putih di panggung olahraga dunia, kini giliran kita membantu mereka meningkatkan kesejahateraan hidupnya. Anda berminat?
di ambil dari: Okezone Sport
BIAYA Bukan Masalah
Anak Tukang Parkir Ingin Jadi Juara
Hendra Mujiraharja
Nur Fuziah. (Foto: Hendra M/Okezone.com)
Okezone sempat mendatangi GOR Ragunan, beberapa waktu lalu. Ternyata, ada sekelompok anak muda yang masih sekolah sedang berlatih angkat besi untuk mempersiapkan diri menghadapi POPNAS. Mereka merupakan atlet pelajar andalan DKI.
Pelatih Pelajar DKI Sunarto mengatakan kepada Okezone ada seorang atlet termuda yang sedang berlatih di GOR Ragunan. “Ada namanya Fauziah yang turun di kelas 44 kg,” demikian kata Sunarto, beberapa waktu lalu. Anak mungil ini terlihat begitu semangat untuk melakukan latihan snatch dan clean and jerk bersama atlet lainnya.
Apa yang membuat Fauziah ingin menjadi atlet angkat besi? Wanita kelahiran 13 Febuari 1999 ini ingin sekali meraih gelar juara di turnamen internasional seperti SEA Games dan Olimpiade. Fauziah ingin mengikuti jejak Eko Yuli Irawan. “Saya ingin mendapatkan medali emas,” tandasnya.
Fauziah sebenarnya ingin menekuni bulutangkis.Tapi impian gadis periang ini untuk menjadi srikandi raket terpaksa surut. Dia menyerah setelah membayangkan biaya-biaya yang harus dikeluarkan untuk mengejar ambisinya itu.Ayahnya, seorang tukang parkir.
“Awalnya, saya ingin menjadi atlet bulutangkis. Tapi, karena perlengkapan sangat mahal membuat saya mengurungkan niat tersebut,” ungkap Fauziah kepada Okezone.
Tapi Fauziah tidak patah semangat.Tekadnya untuk menjadi atlet masih membara. Gadis hitam manis ini pun akhirnya berkenalan dengan olahraga angkat besi setelah pamannya menyuruhnya untuk mengikuti latihan angkat besi di GOR Ragunan. Saat itu dia masih kelas enam SD. Sejak saat itu, dara kelahiran Jakarta ini langsung jatuh cinta dengan olahraga angkat beban ini.
“Kemudian, saya mencoba untuk mengikuti seleksi di angkat besi dan keterusan hingga sekarang ini. Pertama memang sangat sulit untuk mengikuti olahraga ini. Namun, setelah mengikuti latihan saya menjadi suka,” jelas Fauziah yang juga memiliki cita-cita menjadi Polisi Wanita ini.
Di sela-sela sekolah, Fauziah berlatih dengan giat. Fauziah coba membagi waktu sebaik mungkin agar tetap bisa berlatih, termasuk mencuri-curi waktu menjelang menghadapi ujian sekolah. Saat ini Fauziah masih duduk di kelas dua SMP Ragunan Jakarta.
“Saya berlatih enam hari dalam satu pekan dan hanya libur hari Kamis. Saya mulai latihan dari pukul tiga sore sampai pukul lima,” demikian cerita Fauziah, yang turun di kelas 44 kg tersebut.
Fauziah yang tinggal di asrama Ragunan juga tetap semangat melahap menu-menu latihan, meski giliran menyantap menu sesungguhnya, makanan, maksudnya, dia harus menyantap gizi ala kadarnya. “Makan seadanya saja, yang penting ada tenaga untuk latihan,” tambahnya.
Ajang POPNAS 2013 yang akan berlangsung di Jakarta akan menjadi debutnya. Meski tidak diharapkan meraih medali, ternyata Fauziah tetap semangat untuk mempersembahkan yang terbaik bagi DKI.
“Saya senang sekali bisa bermain di turnamen itu. Saya berusaha mendapatkan medali. Tapi emang tidak ditargetkan, saya akan berusaha tampil sebaik mungkin,” pungkasnya.
diambil dari: sports.okezone.com
CACAT "Bukan Masalah"
Kisah Pilu Sang Sprinter 'Cacat'
Achmad Firdau
Oscar Pistorius saat tampl di Olimpiade 2012 London (Foto: Reuters)
Pistorius lahir di Sandton, Provinsi Transvaal (sekarang Provinsi Gauteng), Johannesburg, Afrika Selatan, 22 November 1986. Pistorius merupakan anak kedua dari tiga bersaudara hasil pernikahan Henke dan Sheila Pistorius. Kakaknya bernama Carl sementara adik perempuannya bernama, Aimee Pistorius.
Dilahirkan dengan kondisi cacat (tanpa tulang fibula lutut), Pistorius harus menerima kenyataan kedua kakinya diamputasi saat usianya baru 11 bulan. Meski begitu, Pistorius mampu mengatasi kekurangannya dan melanjutkan hidupnya dengan kaki buatan.
Kehidupan masa kecil Pistorius bisa dibilang cukup tragis. Di usianya yang baru enam tahun, Pistorius harus menerima kenyataan ayah dan ibunya bercerai. Hubungannya dengan sang ayah yang seorang pengusaha pun menjadi tidak baik. Pistorius memilih tinggal bersama ibunya.
Namun, saat usianya menginjak 15 tahun, cobaan kembali datang. Sang ibu meninggalkannya untuk selama-lamanya lantaran komplikasi obat yang dikonsumsinya usai operasi histerektomi (pengangkatan rahim).
Menggeluti Olahraga
Meski masa kecilnya bisa dibilang cukup tragis, Pistorius tak patah arang. Dia mampu menjalankan pendidikannya dengan baik. Di usia 11 dia mulai menunjukkan ketertarikannya pada dunia olahraga. Dengan kaki buatan, dia sempat menggeluti olahraga polo air, tenis, gulat bahkan hingga masuk tim rugby di sekolahnya Pretoria Boys High School.
Pada tahun 2003, Pistorius yang saat itu berusia 17 tahun harus mengakhiri kariernya di dunia Rugby karena mengalami cedera lutut parah. Nah, setelah itu dia mulai tertarik pada dunia atletik (lari).
Selama menjalani proses rehabilitasi di University of Pretoria's High Performance Centre, Januari 2004, Pistorius mulai mengasah kebolehan berlarinya dengan bimbingan pelatihnya Ampie Louw. Nah, olahraga inilah yang hingga kini terus digelutinya.
Meski menggunakan kaki buatan, Pistorius menunjukkan bakatnya dalam berlari dengan kencang. Namun, kaki buatan yang digunakannya saat itu tidak cukup mendukungnya untuk bisa berlari dengan cepat.
Maka dari itu, Francois Vanderwatt seorang ahli dalam pembuatan kaki palsu membuatkan desain kaki palsu yang cocok. Dengan dibantu pembuatannya oleh arsitek lokal, Pistorius akhirnya mendapatkan sepasang kaki palsu. Namun, kaki palsu tersebut tidak cukup kuat, sehingga patah saat digunakan berlari.
Vanderwatt kemudian menyarankan Pistorius menemui seorang ahli pembuatan kaki palsu asal Amerika yang juga sprinter Paralympic (turnamen olahraga khusus orang cacat), Brian Frasure. Dia akhirnya dibantu mendapatkan kaki palsu yang memang didesain khusus untuk berlari. Kaki palsu ini diproduksi oleh perusahaan asal Islandia, Ossur.
Sambil mengasah bakatnya di dunia lari, Pistorius tak lantas melupakan studinya. Dia melanjutkan kuliah di University of Pretoria mengambil gelar B.Com di jurusan manajemen bisnis dan ilmu pengetahuan olahraga pada 2002.
Di usia 26, Pistorius sempat mengatakan, bahwa dirinya tidak akan lulus dengan cepat karena disibukkan serangkaian latihan berlari. “Saya harap bisa lulus tepat waktu, yakni pada usia 30 tahun!” katanya saat itu.
Benar saja. Dia tidak mampu menyelesaikan kuliahnya hingga lulus. Satu tahun kuliah, Pistorius mulai sibuk mengikuti berbagai kejuaran lari (sprint). Dia mengikuti ajang balap lari untuk kelas T44 (kategori amputasi satu kaki di bawah lutut), dan juga kelas T43 (amputasi dua kaki di bawah lutut). Bermodalkan kemenangan di berbagai ajang lokal tersebut, Pistorius akhirnya tampil di ajang resmi, yakni di Paralympic musim panas di Athena 2004.
Sukses di Paralympic dan Perjuangan Tampil di Olimpiade
Turun di kelas 100 meter kategori T44, Pistorius meraih medali perunggu setelah menjadi yang tercepat ketiga. Sementara di kelas 200m, dia sukses meraih emas dengan menyisihkan dua atlet Amerika Serikat, Marlon Shirley and Brian Frasure.
Bermodalkan dua keping medali tersebut, Pistorius terus mencatatkan prestasi gemilang. Pistorius mencatatkan rekor dunia untuk pelari cacat. Tak tanggung-tanggung, dia mencatatkan diri sebagai pelari tercepat untuk nomor 100, 200 dan 400 meter (46,56 detik).
Prestasi mengesankannya tersebut, membuat Federasi Atletik Dunia (IAAF) mengundangnya ambil bagian pada kejuaraan lari internasional untuk orang normal di Helsinki Finlandia. Sayang, saat itu tidak bisa ikut karena komitmennya terhadap kuliahnya.
Dia baru ikut pada kejuaraan Golden Gala di Roma pada 2007 dan tampil sebagai yang tercepat kedua untuk kualifikasi B untuk nomor 400 meter. Pada kejuaraan finalnya di Sheffield, Inggris, Pistorius mampu finis di urutan tujuh melawan sprinter normal. Namun, dia didiskualifikasi karena berlari keluar jalur.
Pengalamannya bertarung melawan orang normal membuatnya berambisi tampil di ajang Olimpiade Beijing 2008. Sayang, federasi atletik Afsel tidak bisa mengikutertakannya, karena dilarang IAAF.
IAAF melarang Pistorius ambil bagian karena menduga kaki buatan yang digunakannya memberikannya keuntungan, karena sistem pegas dalam alat tersebut. Hal ini, dinilai IAAF mengunguntungkan Pistorius ketimbang pelari normal lain.
Pada November 2007, seorang Ilmuwan asal Jerman Dr Peter Bruggemann ditemani Mr Elio Locatelli melakukan penelitian terkait kaki palsu Pistorius. Usai dua hari melakukan penelitian, mereka menemukan bahwa kaki palsu Pistorius tidak terbukti menguntungkannya. Dia bahkan mengeluarkan energi 25 persen lebih besar ketimbang pelari normal.
Dalam pernyataannya di koran Jerman, Die Welt, Dr Bruggemann mengatakan, “Keunggulan yang dimiliki Pistorius dari pelari normal lain, bukan dikarenakan kaki palsunya .” Sayangnya, pernyataan tersebut tak mengubah keputusan IAAF yang tetap melarang Pistorius ambil bagian di Olimpiade Beijing. Pistorius sendiri mengatakan bahwa keputusan IAAF “terlalu prematur dan subjektif.”
Tak puas dengan keputusan tersebut, Pistorius yang didampingi manajernya Peet van Zyl mengajukan banding ke Court of Arbitration for Sports (CAS) di Lausanne, Swiss. Dalam persidangan, majelis hakim akhirnya mengabulkan banding Pistorius, merujuk bukti-bukti pernyataan beberapa ahli yang mengatakan kaki palsunya itu tidak memberikan keuntungan.
Dalam pernyataan usai sidang, Pistorius mengatakan, “Fokus saya tentang banding ini adalah, memastikan agar atlet cacat diberi kesempatan bersaing dengan mereka yang normal. Saya akan terus berjuang untuk bisa tampil di Olimpiade.”
Dia pun akhirnya mendapat kesempatan mewujudkan mimpinya itu. Untuk tampil di Olimpiade Beijing 2008, Pistorius harus mampu melewati standar kualifikasi A, yakni 45.55 detik untuk nomor 400 meter. Dan 45.95 untuk kualifikasi B. Sayang, dia gagal menembus catatan waktu yang telah ditentukan. Catatan waktu terbaik Pistorius hanya hampir 47 detik.
Kekecewaannya gagal tampil di Olimpiade 2008, dilampiaskannya pada ajang Paralympic 2008. Dia juga tetap mengusung ambisi tampil di Olimpiade London 2012. Di ajang yang memang diperuntukan untuk orang cacat itu, Pistorius tampil menggila dengan menyapu bersih emas di tiga kategori perseorangan, yakni nomor 100m, 200m dan 400 meter (T44).
Berkat penampilan cemerlangnya itu, konfederasi olahraga Afrika Selatan dan komite Olimpiade atletik Afsel akhirnya memasukkan nama Pistorius dalam skuad untuk Olimpiade London 2012.
Dia masuk skuad untuk kategori sprint 400m individu dan estafet 4x400m. Ini membuat Pistorius mencetak sejarah sebagai atlet cacat pertama yang tampil sepanjang sejarah perhelatan Olimpiade.
4 Agustus 2008, Pistorius memulai debut Olimpiadenya pada heat pertama untuk nomor 400m individu. Pistorius mampu mencatatkan waktu tercepat kedua dengan catatan waktu 45.44 detik (catatan terbaiknya), dan melaju ke semifinal. Sayangnya, dia gagal menembus putaran final, karena hanya jadi pelari trcepat ke-8 dan terakhir, di dua semifinal yang diikutinya dengan catatan terbaik 46.54. detik.
Di nomor 4x400 meter estafet putra, Tim Afrika Selatan berhasil lolos heat pertama dan melaju ke semifinal. Sayang, di perjalanan menuju final, Pistorius dkk kembali gagal. Pelari kedua Afsel, Ofentse Mogawane terjatuh dari mengalami cedera sebelum memberikan tongkat estafet untuk Pistorius yang jadi pelari ketiga.
Meski gagal tampil di gelaran utama Olimpiade, Pistorius tetap bangga karena sudah mencatatkan diri sebagai atlet cacat pertama yang bisa tampil di Olimpiade. Pelari yang kemudian mendapat julukan ‘Blade Runner’ ini bahkan dipercaya sebagai pembawa bendera Afsel pada upacara penutupan Olimpiade.
Di ajang Paralympic 2012 yang juga dihelat di London, Pistorius yang ditugaskan membawa bendera Afsel, sukses meraih prestasi. Dia sukses meraih medali di tiga nomor. Perak di nomor 200m dan emas di nomor 400m dan estafet 4x100m. Raihan ini sontak membuatnya dielu-elukan publik Afrika Selatan. Moto Pistorius yang sangat terkenal adalah, “Anda tidak cacat dengan kecatatan yang Anda miliki, tapi Anda bisa karena kemampuan yang Anda miliki,” ujarnya.
Pamor berakhir TragisMenyandang predikat sebagai atlet pertama yang tampil di Olimpiade, Pistorius tentunya senang. Namun, yang paling membuatnya bangga adalah, dia bisa tampil di hadapan neneknya yang berusia 89 tahun dan sukses memberikan kebanggaan dengan tampil sebagai pemenang.
Sayang, pamor Pistorius terjun bebas pada medio Februari. Pada suatu malam menjelang 14 Februari 2013, atlet 26 tahun ini melakukan tindakan yang sulit dimaafkan.
Dia menembak mati kekasihnya yang juga model terkenal Afsel, Reeva Steenkamp yang hendak memberikan kejutan valentine kepadanya. Steenkamp yang datang diam-diam dan bersembunyi di toilet, tewas dengan timah panas Pistorius menembus kepala, pinggul dan lengannya.
Dalam keterangannya di pengadilan, Pistorius mengelak bahwa dirinya sengaja melakukan pembunuhan itu. Dengan berurai air mata, Pistorius mengatakan bahwa dirinya tidak sengaja menembak sang kekasih karena mengira Steenkamp adalah penyusup yang punya niat jahat di rumahnya.
Namun, jaksa penutut punya opini lain. Dia mengatakan bahwa Pistorius sengaja membunuh sang kekasih karena keduanya sebelumnya memang kerap terlibat cekcok. Sang penuntut juga sempat mengajukan saksi mata yang memperkuat tuduhannya tersebut.
Meski demikian, pernyataan saksi-saksi yang diajukan penuntut tidak konsisten. Hingga akhirnya, hakim Desmond Nair memutuskan mengabulkan permintaan pengacara Pistorius yang meminta kliennya dibebaskan dengan jaminan bahwa kliennya tidak akan melarikan diri.
Kasus Pistorius untuk sementara ditangguhkan dan ditunda hingga 4 Juni 2013. Sebagai jaminan, Pistorius harus membayar 1 juta rand atau setara Rp1 miliar. Selain membayar denda, Pistorius juga wajib menyerahkan dua senapan yang digunakannya untuk membunuh sang kekasih,menyerahkan dua paspor miliknya guna mencegahnya pergi ke luar negeri.
Selain itu, Pistorius juga dilarang tinggal di rumahnya dan bersentuhan dengan para saksi dan wajib melapor ke pihak yang berwajib selama dua kali dalam sepekan, serta tidak boleh menenggak minuman beralkohol. Saat ini, Pistorius tinggal bersama Pamannya di kawasan Pretoria