Popular posts

Diberdayakan oleh Blogger.
Unknown On Senin, 25 Februari 2013


Sulitnya Memperjuangkan Masa Depan Atlet

Rejdo Prahananda - Okezone
Foto: dok. Okezone
Foto: dok. Okezone
DI BALIK gemerlapnya hingar bingar prestasi dan glamoritas yang menghinggapi para atlet di masa keemasannya, sebagian dari kita mungkin lupa bagaimana kehidupan sang atlet di masa mendatang.

Tidak dapat dipungkiri, untuk hal yang satu ini, jangankan kita, mungkin sang atlet sendiri lupa bagaimana kelanjutannya masa depannya setelah kebintangannya meredup. Atlet-atlet tersebut menjalani realitas kehidupan yang semakin kompleks setelah melepas atributnya sebagai atlet.

Beruntung bila mereka memiliki bisnis sampingan dan keahlian lain di luar bidang olahraga, jika tidak? Bukan mustahil kehidupan ekonomi mereka jauh di bawah standar. Banyak faktor yang membuat sang atlet hidup di antara kalangan marjinal, setelah mereka mengumandangkan Indonesia Raya di pentas olahraga. Selain kurangnya perhatian pemerintah, semua berpulang ke individu masing-masing.

Salah satunya faktornya, banyak dari pahlawan olahraga ini lupa untuk menyisihkan sebagian pendapatan mereka saat pundi-pundi keuangan mereka menggelembung lewat prestasi yang dikumpulkan dari arena pertandingan. Kesenangan sesaat tanpa perencanaan program jangka panjang dengan matang, setidaknya turut menentukan garis kehidupan mereka kelak.

Bukan hanya persoalan kantong semata, pendidikan pun acapkali mereka kesampingkan demi menuai medali emas. Bak makan buah simalakama, situasi ini  tidak bisa dipisahkan dari kehidupan para atlet. Nah, berkaca dari sisi lain ini, membuat Yayasan Olahraga Indonesia (YOI)  tergerak untuk membantu para atlet tersebut agar hidup sejahtera.

Menurut konsultan YOI, Robert Nio visi dan misi YOI tidak lain meningkatkan taraf hidup olahragawan dengan berbagai macam kategori. Insipirasi YOI untuk meningkatkan kesejahteraan pun sangat sederhana, bermula dari keprihatinan mereka atas nasib para olahragawan yang hidup di ambang garis kemiskinan.

Dalam diskusi terbuka yang digelar YOI serta dihadiri pengamat olahraga Rendra Soedjono dan mantan atlet perenang Nasional, John D. Item, Robert berujar. “Seorang juara tinju pernah mengatakan kepada saya ‘Menjadi juara tinju sulit, tapi lebih sulit menjadi pemulung.’”

Kontan saja, undangan yang datang ke acara tersebut sempat terdiam sejenak, seakan tidak percaya sebegitu ironisnya kehidupan para atelt di Indonesia. “Tapi faktanya demikian, jika ada di antara kalian (wartawan) ingin menemuinya akan saya berikan alamatnya,” sambung Robert.

Nantinya, YOI sendiri tidak akan meminta bantuan dari pemerintah melainkan dari para masyarakat dan penggiat olahraga yang menaruh respek atas komitmen YOI meningkatkan kualitas hidup para atlet. Beberapa cara yang dilakukan YOI adalah melalui program asuransi kesehatan dan pendidikan. YOI pun membuka diri dengan bantuan dari pihak lain bisa berupa dana maupun usaha mandiri.

Kehidupan nyata para atlet di masa mendatang cukup disayangkan, terutama oleh Rendra yang memiliki profesi sampingan sebagai manajemen atlet selain disibukkan menjadi presenter olahraga di sebuah stasiun televisi swasta. Dia bercerita, bagaimana sulitnya meyakinkan atletnya untuk menyisihkan sebagian pendapatan guna diinvestasikan atau dijadikan pegangan di hari tua.

“Saya melakukan ini demi masa depan dia sendiri agar dia bisa berinvestasi. Saya berikan kepada orang tuanya atau meminta membuat rekening khusus agar uang tersebut bisa digunakan untuk berinvestasi atau pegangan di hari tua nanti,” ungkap Rendra.  “Atlet juga butuh pencerahan, mereka juga harus mengelola uang mereka, salah satunya dengan menabung. Karena perkembangan olahraga di Indonesia sangat baik dan telah menjadi industri,” sambungnya.

Rendra sadar, masih banyak cara yang bisa dilakukan berbagai kalangan untuk membantu taraf kehidupan yang layak bagi para atlet. Dia mencontohkan bagaimana Jerman memperlakukan atletnya yang berprestasi. Selain memberikan bonus berupa uang tunai dan berbagai jaminan, Komite olahraga di Jerman juga memberikan beasiswa kepada anak atlet tersebut secara berjenjang mulai dari sekolah dasar hingga bangku kuliah. “Saya harap langkah itu bisa dilakukan di Indonesia,” harapnya.

Meski demikian, Rendra melanjutkan, ada juga cerita manis dari para atlet setelah meninggalkan kariernya di dunia olahraga di antaranya Bob Hippy yang memprakarsai berdirinya sekolah sepakbola AS-IOP dan Rudy Hartono yang berhasil menjadi CEO pelumas mesin kendaraan yang berafiliasi ke Amerika Serikat.

Lain halnya dengan John D. Item, atlet renang ini sangat beruntung. Pria tambun yang telah menyumbang banyak emas di lima SEA Games ini berkesempatan mengenyam pendidikan hingga Amerika Serikat, setelah sebelumnya merasakan bangku kuliah di Universitas Indonesia hingga akhirnya menjabat Presiden Direktur Danareksa Investment Managements.

Menurut John, semua atlet sebenarnya memiliki kesempatan untuk menggapai sukses di luar olahraga, karena mereka telah terbiasa berkompetisi dengan tradisi kerja keras yang kental serta memiliki team work yang kuat, merupakan modal bagi untuk sukses.

“Olahragawan memiliki bibit untuk juara di berbagai bidang kehidupan. Mereka terbiasa berkompetisi dan bekerja keras, serta memiliki team work yang handal untuk meraih sukses di segala bidang. Saya selalu berusaha berlatih lebih cepat 0,1 detik per hari,” tutur John menganalogikan kerja keras seorang yang dimiliki seorang atlet untuk sukses. “Waktu 0,1 detik ini membuat saya bisa ke Amerika,” sambungnya.

Jika bukan kita yang memperhatikan nasib atlet, siapa lagi? Setelah mereka bersusah payah mengibarkan Merah Putih di panggung olahraga dunia, kini giliran kita membantu mereka meningkatkan kesejahateraan hidupnya. Anda berminat?
di ambil dari: Okezone Sport

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments